VISI

Menjadi pusat pembelajaran yang prima dan terpercaya di Indonesia di abad ke-21 untuk ilmu sastra, bahasa, dan budaya, dengan menitikberatkan pada kemandirian, kreatifitas dan profesionalisme berdasarkan kasih dan keteladanan Yesus Kristus.

 

MISI

Mempersiapkan sarjana yang handal dalam ilmu bahasa, sastra dan budaya asing untuk mengembangkan ilmu dan menjawab tantangan dunia kerja.

 

TUJUAN

  1. Menghasilkan lulusan sarjana sastra berkualitas prima yang memiliki pemahaman budaya asing, yang juga handal, mandiri serta berdaya cipta tinggi dalam dunia kerja.
  2. Menghasilkan lulusan sarjana sastra yang memiliki keterampilan berkomunikasi (communication skills) dalam bahasa asing, baik secara lisan maupun tertulis dan memiliki kepekaan berbahasa
  3. Meningkatkan wawasan keilmuan staf dosen dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi.
  4. Memberikan layanan yang prima dalam bidang administrasi akademik.
  5. Menciptakan lingkungan intelektual yang menerapkan nilai-nilai hidup kristiani, yaitu Integritas, Kepedulian, dan Keprimaan.
  6. Meningkatkan citra Fakultas Sastra sebagai institusi pendidikan yang prima.

 

 

Sejarah Fakultas Sastra

Prodi Sastra Inggris

Fakultas Sastra didirikan pada tahun 1966 dengan jumlah mahasiswa hanya 7 orang.  Sehubungan dengan aksi-aksi mahasiswa pada tahun pembukaan hanya sedikit sekali dari kuliah-kuliah yang diikuti mahasiswa secara teratur, sehingga Fakultas Sastra praktis dimulai pada tahun 1967.  Kuliah diadakan di berbagai tempat: SMAK Dago, Wisma GMKI, SDK Jahja, rumah Pak Laban (Dekan pertama), rumah Ibu Clara.

Korps dosen, yang waktu it baru terdiri atas delapan orang, dikurangi dengan keberangkatan Rev.I.Cairn, dosen Agama dan Conversation, ke Skotlandia.  DS.L.Flien yang menggantikannya, dapat mengajar satu semester sebelum cuti ke Nederland.

Pada akhir tahun 1967 Let.Kol. B. Sormin, Instruktur Kemiliteran, dan Dr. M. Sirait, dosen Undang-undang Dasar, harus meninggalkan Fakultas Sastra Inggris karena tugas mereka yang baru.  Miss Margaret Kirk, yang mengajar Composition, pulang ke Selandia Baru.  Pada pergantian semester tahun 1968, Sdr. Ho Dhian Sik, dosen Phonetics, berhalangan untuk melanjutkan kuliah-kuliahnya. Pada akhitr tahun 1968, Dra. N. Rachman berhenti memberi pelajaran Conversation.  Untuk tahun akademis 1969, kuliah-kuliah Filsafat terpaksa ditinggalkan karena Ms.Dorothy I. Marx harus berobat ke Inggris.  Pada akhir tahun 1969 Dra Julia Sutandio, dosen English Literature, terpaksa cuti untuk kesehatannya. Untuk semester kedua dalam tahun 1969, Fakultas berhasil mengundang Ms. Rosemary H. Aldis, MSc., yang bersedia memberi kuliah-kuliah tentang English Culture sebagai guest lecturer.

Pada tahun 1969 ada beberapa mahasiswa yang meninggalkan Fakultas Sastra karena tidak ada mahasiswa baru. Dengan kondisi jumlah mahasiswa yang begitu sedikit, hubungan yang dekat bahkan akrab terjalin antara dosen dan mahasiswa. Dosen-dosen yang mengajar pada waktu itu adalah Dra. Otty Leander, Bapak Oey Sui San (sekretaris Fakultas Sastra), Mrs. Dixon (USA), Mr. Cairns (New Zealand), dan Bp Kostaman Setiabasa (Dekan kedua).  Kesulitan yang dihadapi mahasiswa saat itu adalah mereka harus menunggu sampai ada mahasiswa baru, sehingga jumlah mahasiswa semakin berkurang karena ada yang keluar.  Saat itu juga ada Ujian LC (Low Certificate) dari Cambridge yang menjadi prasyarat untuk meraih gelar BA (Sardjana Muda).  “Semoga kita tidak mengulangi sejarah  minus mahasiswa seperti yang terjadi pada waktu itu,” demikian kalimat yang diucapkan oleh Ibu Chrystantia Suryadi, seorang mahasiswa angkatan pertama Fakultas Sastra.

Sebagai lulusan Sarjana Lokal pertama (1974), Ibu Vivianty Tanumiharja mengisahkan bahwa pada waktu beliau masuk Fakultas Sastra pada tahun  70 ada sejumlah 22 orang mahasiswa, tahun berikutnya di tingkat dua tinggal 6 orang, lalu di tingkat 3 masih bertahan 6 orang, dan pada tingkat 4 hanya 3 orang.  Beliau satu-satunya mahasiswa yang lulus dari angkatan 1970 dengan skripsi berjudul The Aspect of Love in Wuthering Heights.

Lab Bahasa dibangun pada tahun 1974 dengan 24 booths.  Menurut Ibu Vivi waktu itu ada beberapa native speakers, antara lain: Mrs. Wiley (USA), Mr./Mrs. Maxwell (Australia), Pdt. Heath (mengajar Etika Kristen), Pdt Dorothy. I. Marx (Agama).  Kenangan manis yang beliau alami adalah kedekatan dengan dosen-dosen dan frekuensi penggunaan Bahasa Inggris yang hampir 100%.  Lulusan pada waktu itu mempunyai peluang yang baik dalam mencari pekerjaan, misalnya Ibu Vivi sempat menjadi penerjemah, Executive Secretary (pabrik sepatu export), Managing Director for export (Bayer Chemicals, perusahaan Swiss), Officer Manager (perusahaan Belanda), Agen asuransi, sampai ia pensiun dan memberi les privat conversation.

Bapak Drs. Ganda Wargasetia, Dipl. TESL mengabdi menjadi Pembantu Dekan III selama 17 tahun.  Beliau merasakan hubungan kekeluargaan yang sangat pekat di Fakultas Sastra, misalnya ketika Bapak Drs. Jusak Supardjan (Dekan ke-empat) dirawat di rumah karena sakit, Pak Ganda sampai harus datang ke rumahnya dan memberikan bimbingan skripsi.

Pada tahun 1990 Fakultas Sastra statusnya menjadi diakui, suatu hal yang sangat menggembirakan dan membanggakan.  Namun ironisnya disinyalir ada Surat Keputusan yang mengatakan bahwa untuk dosen lulusan IKIP Bandung tidak diperkenankan mengajar di tingkat universitas.  Beliau dan teman-teman yang berasal dari IKIP merasa kuatir juga, namun sangat melegakan bahwa Surat Keputusan tersebut tidak berlaku untuk lulusan yang sudah senior.  Seingat beliau Fakultas Sastra Inggris pernah memenangkan Speech Contest (Susan Yuwona & Trisnowati Tanto) yang diadakan oleh IKIP Bandung (tahunnya sudah lupa).  Harapan beliau adalah agar Fakultas Sastra dapat meningkatkan mutu lulusannya.

Serupa dengan kisah dari Bapak Ganda, yaitu Bapak Drs. Rudy Suwandi, Dipl. TESL mengakui bahwa beliau benar-benar menikmati mengajar di Fakultas Sastra.  “No problem!”, katanya.  UKM sudah menjadi rumah keduanya karena beliau sangat betah di sana.  Belaiau juga mengatakan bahwa ia mengajar mulai dari semester 1 sampai dengan semester 8 (hampir semua mata kuliah).  Namun, menurut beliau, yang menjadi tantangan/kesulitan pada waktu itu adalah harus “berebut” ruangan dengan fakultas lain ketika kuliah di jalan Cihampelas.  Namun kenangan yang tak terlupakan adalah ketika Fakultas Sastra mengadakan Speech Contest dan Poetry Reading Contest, para mahasiswa begitu antusias untuk menjadi pemenang.  Beliau tidak lagi mengajar di UKM pada tahun 1991 ketika kegiatan perkuliahan pindah ke kampus II.  Terakir, beliau mengusulkan untuk memberi soal tambahan sewaktu Ujian Saringan Mahasiswa bagi calon mahasiswa yang akan studi di Fakultas Sastra, misalnya ujian writing untuk melihat minat dan bakat mereka.

Menurut penuturan kedua nara sumber yang pernah menjabat menjadi Dekan Fakultas Sastra, yaitu Ibu M. Melly Kosasih dan Bapak Jusak Supardjan, mulai tahun 1986 Fakultas Sastra UKM merekrut tenaga-tenaga lulusannya sendiri untuk dibina menjadi dosen tetap, karena sebelumnya lebih banyak memakai dosen luar biasa yagn membuat fakultas mengalami stagnasi dan tidak dapat meningkatkan status terdaftarnya.  Baru pada tahun 1990 UKM mengangkat 9 orang dosen tetap Fakultas Sastra.  Perekrutan tenaga-tenaga lulusan sendiri ternyata membuahkan hasil yang luar biasa bagi status Fakultas Sastra UKM.  Selain itu, pada tahun 1987, sistem PUC (Pre-University Course) diterapkan di Fakultas Sastra UKM bersamaan dengan SKS (Sistem Kredit Semester) yang saat itu baru diujicobakan.  Calon-calon mahasiswa yang lulus tes khusus dapat memasuki tingkat I (non-PUC) dan dapat selesai dalam waktu 4 tahun, sedangkan yang tidak lulus tes harus mengikuti jalur PUC dan menempuh kuliah selama 5 tahun atau lebih.  Penyaringan dengan cara ini menguntungkan bagi mahasiswa yang pandai dan rajin serta memiliki determinasi yang kuat untuk keberhasilan studi mereka.

Pada tanggal 21 April 1990 melalui SK No. 0302/0/1990 dari Departement P&K, Fakultas Sastra UKM mendapat status DIAKUI.  Hal ini berdampak positif, karena jumlah pendaftar ke Program Sastra Inggris UKM meningkat.  Pimpinan Fakultas Sastra saat itu adalah Dra. Lies Hidayat.  Di samping itu, penerapan Sistem Kredit Semester di Fakultas Sastra UKM secara menyeluruh dimulai pada pertengahan tahun 1990 dan sistem PUC dihapuskan.

Kemajuan Fakultas Sastra UKM mengalami percepatan, karena status DIAKUI tersebut yang membuat gairah kerja staf administrasi meningkat dan khususnya dari pihak dosen menjadi semakin serius, terutama dalam mengurus kenaikan jenjang akademik.  Hal itu juga mendorong pimpinan fakultas untuk mengurus status DISAMAKAN lebih cepat lagi di samping adanya pemekaran program studi.

Berita menggembirakan tentang kenaikan status menjadi DISAMAKAN bagi Program Sastra Inggris datang melalui SK No. 159/DIKTI/Kep/1993 tanggal 20 April 1993.  Dengan status DISAMAKAN, maka para lulusan dari Program Studi Sastra Inggris cukup diuji satu kali saja oleh dosen-dosennya sendiri.  Kelulusan dapat ditempuh dalam waktu 4 tahun.  Produktivitas program studi Sastra Inggris semakin meningkat dan dengan metode evaluasi baru yang diluncurkan oleh BAN-PT, Program Studi Sastra inggris memperoleh nilai B menurut SK No. 00601/Ak-1.1.-/UKM SGN/VIII/98 dari BAN-PT di Jakarta.  Penilaian ini diperoleh pada waktu Drs. Jusak Supardjan memegang jabatan dekan.  Hasil penilaian ini mengukuhkan Program Studi Sastra Inggris UKM sebagai salah satu yang terbaik di kota Bandung.

Penyempurnaan kemudian banyak dilakukan dalam hal kurikulum, jenjang pendidikan dosen, serta penelitian dosen.  Kurikulum 2002 disusun dengan membagi 2 bidang konsentrasi: Sastra dan Linguistik, dengan menambahkan unsur budaya yang menjadi jembatan dalam memahami bahasa dan karya sastra Inggris/Amerika.  Kemudian pada tahun 2012 sebuah konsentrasi baru dibuka, yaitu Applied Linguistics, untuk mengakomodir mahasiswa yang berminat dalam teknik dan strategi pengajaran, khususnya untuk pendidikan dasar sampai atas.  Selain tiga konsentrasi yang ada, ditawarkan juga banyak mata kuliah pilihan yang difokuskan pada mata kuliah yang aplikatif untuk menunjang lulusan memasuki dunia kerja.  Dalam kaitannya dengan kualifikasi dosen, para dosen didorong untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, mengurus jenjang akademiknya, serta memiliki sertifikasi dosen.  Dalam bidang penelitian, dimulai pada tahun 2002, Jurnal Sastra Inggris terbit secara rutin 2 kali dalam setahun sebagai sarana publikasi penelitian dosen.  Setelah itu pada tahun 2010, Jurnal Aurora, yang mengakomodir penelitian para dosen dari prodi Sastra Inggris, D-III Bahasa Inggris dan Sastra Jepang, mulai terbit.  Dari semua upaya yang dilakukan, hasil positif dapat terlihat ketika Program Studi Sastra Inggris dapat mempertahankan nilai B dalam akreditasi oleh BAN-PT melalui SK No. 045/BAN-PT/AK-VII/S1/XII/2003.  Pada hasil akreditasi terakhir di tahun 2105, Program Studi Sastra Inggris masih  mempertahankan status akreditasi B melalui SK No. 1122/SK/BAN-PT/Akred/S/X/2015.

Upaya penyempurnaan ke arah yang lebih baik terus dilakukan.  Dosen tamu lokal maupun asing didatangkan untuk melengkapi kebutuhan proses belajar mengajar.  Kesempatan dosen untuk studi lanjut dengan beasiswa asing semakin terbuka lebar, antara lain dari United Board for Christian Higher Education in Asia dan Ohio University, USA (hingga tahun 2008).

Prodi Sastra Jepang

 Pemekaran Fakultas Sastra dilakukan pada awal tahun 1992.  Pembantu Dekan Fakultas Sastra saat itu, Drs. Jusak Supardjan, mengajak beberapa dosen Unpad bekerja sama untuk mendirikan Program Studi Sastra Jepang di UKM.  Kegiatan akademik mulai dilaksanakan pada pertengahan tahun 1992.  Belum banyak mahasiswa yang mendaftar pada angkatan ke-1.  Jumlah mahasiswa bertambah dari tahun ke tahun.  Atas dorongan pimpinan universitas, Program Studi Sastra Jepang memberanikan diri untuk memperoleh akreditasi BAN-PT pada tahun 2001.  Hasilnya ternyata tidak mengecewakan, nilai B didapat berdasarkan SK No. 001/BAN-PT/Ak-V/S1/II/2002. Dalam akreditasi terakhir di tahun 2013, Program Studi Sastra Jepang masih mempertahankan nilai B lewat SK No. 211/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/X/2013.

Sejalan dengan pengembangan sumber daya manusia, maka mulai tahun 2004 Program Studi Sastra Jepang, yang sebelumnya banyak menggunakan dosen luar biasa, lebih banyak mengandalkan dosen tetap Yayasan PTKM.  Saat ini, semua dosen telah menyelesaikan studi S-2 nya, dan ada dua dosen yang akan mendapatkan gelar doktornya.  Pengembangan terus dilakukan dengan salah satunya mengikutkan dosen dalam pelatihan dosen jangka pendek di Jepang via The Japan Foundation.  Selain itu, dosen juga didorong untuk mengikuti seminar dan pelatihan agar dapat mengikuti perkembangan pengajaran Bahasa Jepang terbaru.  Sejak tahun 2002 Program Studi Sastra Jepang telah berhasil menerbitkan Jurnal Sastra Jepang secara rutin 2 kali dalam setahun, sebelum kemudian dilebur menjadi Jurnal Aurora yang mencakup penelitian-penelitian dari Sastra Inggris dan Sastra Jepang.

Kerja sama Fakultas Sastra UKM dengan institusi-institusi pendidikan di Jepang pun berjalan dengan intens dan semakin erat.  Selain membiaya pelatihan di Jepang, The Japan Foundation juga secara rutin memberikan bantuan bahan pengajaran yang jumlahnya signifikan.  Selain itu, Fakultas Sastra juga memiliki banyak kerja sama dengan institusi pendidikan di Jepang yang memungkinkan mahasiswa2 Jepang yang terpilih untuk pergi ke Jepang untuk studi di sana.

PROGRAM STUDI DALAM FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

 Program Studi S1 Sastra Inggris

  • Program Studi S1 Sastra Jepang
  • Program Studi S1 Sastra China
  • Program Studi DIII Bahasa Inggris
  • Program Studi DIII Bahasa Mandarin

Pengembangan Prodi (2019 – 2015)

 Sastra Inggris

  • Dari 13 (tiga belas) orang dosen tetap di Program Studi Sastra Inggris, 2 orang sudah memiliki gelar S3, 9 orang S2, dan 2 orang lagi sedang menempuh pendidikan S2 di Univeritas Indonesia. Gelar S2 dan S3 yang dimiliki oleh para dosen tersebut diperoleh baik dari dalam maupun luar negeri.
  • Pembukaan konsentrasi baru, sehingga ada 3 (tiga) konsentrasi, yaitu Sastra (Literature), Lingustik/Ilmu Bahasa (Linguistics) dan Linguistik Terapan yang mengkhususkan diri pada pengajaran Bahasa Inggris (Applied Linguistics).
  • Semakin banyak dosen tetap dari Prodi Sastra Inggris yang berminat dan diterima untuk menjadi pemakalah dalam konferensi-konferensi maupun seminar-seminar di luar negeri. Ini bukti bahwa kualitas keilmuan para dosen dari Prodi Sastra Inggris tidak kalah dengan dosen-dosen lain dari luar negeri.

S1 Sastra Jepang

Jurusan Sastra Jepang terus berusaha dan berinovasi untuk dapat terus berkembang secara kualitas maupun kuantitas,  di antaranya dengan melakukan evaluasi dan pengembangan kurikulum pada tahun 2013, penugasan dosen untuk studi lanjut di dalam maupun luar negeri, serta mendatangkan tenaga native speaker pada tahun 2011 dengan datangnya tenaga native speaker bernama Yuko Hasegawa yang mengajar hingga tahun 2012, kemudian dilanjutkan dengan kedatangan Itaru Watanabe, M.A pada tahun 2012 hingga 2015. Keduanya merupakan wujud dari hasil kerjasama antara Universitas Kristen Maranatha dengan Kyoto Minsai Japanese Language School.

Selain itu, sejak tahun 2013 telah dilakukan kerjasama dengan Hokusei Gakuen University di Hokkaido, Oita University, dan Hannan University di Osaka, Jepang dalam hal pertukaran mahasiswa. Melalui kerjasama ini, sejak tahun 2013 sampai dengan 2015, Jurusan Sastra Jepang UKM telah mengirimkan 7 orang mahasiswanya untuk menempuh studi di Hokusei Gakuen University, dan 2 orang di Oita University.

Selain itu, pada tahun 2013, mahasiswa/i Jurusan Sastra Jepang UKM melakukan kunjungan ke P.T. Seikou Seat Cover sebagai upaya meningkatkan kesiapan lulusannya dalam menyongsong dunia kerja. Pada tahun 2014, dua orang mahasiswa Jurusan Sastra Jepang UKM juga berhasil mengikuti program internship di PT. Marimo yang berlokasi di Hiroshima, Jepang.

Selain itu, berkat hubungan yang baik dengan Kedutaan Besar Jepang dan Kementerian Riset dan PendidikanTinggi, pada Januari 2015, 3 orang mahasiswa Jurusan Sastra Jepang berhasil memperoleh program Jenesys 2.0 untuk lebih mengenal Jepang dan masyarakatnya selama 1 minggu di Tokyo.

D3 Bahasa Inggris

  • Pada tahun 2012, Program D3 Bahasa Inggris melakukan reakreditasi dan berhasil mempertahankan nilai B.
  • Pengembangan dalam hal SDM terus ditingkatkan hingga pada saat ini salah seorang dosen Program D3 Bahasa Inggris berhasil mendapatkan beasiswa DIKTI untuk studi lanjut dan sudah hampir menyelesaikan Program Doktornya di Victoria University of Wellington, New Zealand.
  • Dosen-dosen menjadi pembicara dalam seminar internasional baik di dalam maupun di luar negeri.
  • Guna mendekatkan dunia kerja dengan mahasiswa, setiap semester dihadirkan dosen tamu yang berkompeten dalam bidangnya untuk sharing ilmu dan informasi mengenai dunia kerja, dosen tamu merupakan English native speaker atau kaum professional di bidang bisnis, perhotelan atau motivator.

D3 Bahasa Mandarin

  1. Program D3 Bahasa Mandarin mulai berdiri sejak tahun 2001. Pada awal pendirian bernama Program D3 Bahasa China. Pada tahun 2008, sesuai dengan ketentuan Dirjen DIKTI beralih nama menjadi Program D3 Bahasa Mandarin.

Program studi telah melaksanakan berbagai program untuk pengembangan prodi, antara lain:

  • Memotivasi mahasiswa/i mengikuti ujian New HSK dengan target maksimal level 5.
  • Menyediakan fasilitas, seperti Ruang Chinese Corner (untuk memfasilitasi mahasiswa menonton saluran televisi Tiongkok dan membaca buku-buku berbahasa Mandarin), Ruang Teaching Workshop (untuk melatih kemampuan pengajaran Bahasa Mandarin), Ruang Business Workshop (untuk melatih kemampuan berbahasa Mandarin dalam berbagai bidang dunia usaha)
  • Mendorong mahasiswa untuk mengadakan dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Bahasa Mandarin.
  • Melatih dan mengembangkan kemampuan berorganisasi melalui HIMA.
  • Mewajibkan mahasiswa tingkat akhir untuk melakukan praktik kerja menggunakan Bahasa Mandarin di instansi-instansi yang bergerak di bidang pengajaran dan dunia usaha.
  • Mendorong para dosen untuk melakukan penelitian yang bersifat ilmiah, professional dan jujur, serta bermanfaat bagi perkembangan keilmuan.
  • Mendorong para dosen untuk terlibat dalam program atau kegiatan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam hal pengembangan pengajaran Bahasa Mandarin.
  • Menjalin kerjasama dengan instansi dalam dan luar negeri, baik dalam bidang pengajaran maupun dalam berbagai bidang dunia usaha.
  • Mendorong tenaga administrasi mengikuti pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kinerjanya dalam membantu hal administrasi program studi.

Selain beberapa hal di atas, prodi juga terus berusaha untuk meningkatkan kualitas mahasiswa/i dengan mengadakan berbagai pembinaan soft skills dalam berbagai kegiatan mahasiswa, seperti : acara kekerabatan, lomba intern, perayaan Cap Go Meh, Bakti sosial, Natal bersama, Food Festival, Chinese Competition, dan Field Trip. Selain pembinaan soft skills dari intern kampus, juga terdapat pembinaan soft skills di luar kampus berupa keikutsertaan mahasiswa dalam berbagai kompetisi Bahasa Mandarin seperti Chinese Bridge dan Shui Li Fang.

Prodi tidak hanya memperhatikan mahasiswa/i yang sedang menempuh studi di D3 Bahasa Mandarin, namun juga tidak berhenti memperhatikan lulusan. Prodi melakukan evaluasi dan kegiatan studi pelacakan alumni dengan mekanisme menyebarkan angket kepada lulusan dengan tujuan melacak tempat kerja/jenis pekerjaan yang digeluti lulusan. Selain disebarkan kepada lulusan, angket juga disebarkan kepada pihak pengguna lulusan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penilaian pihak pengguna terhadap lulusan dan masukan-masukan dari pihak pengguna lulusan agar dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut. Prodi juga terus melakukan upaya perbaikan pembelajaran dan peningkatan suasana akademik, peningkatan mutu dan kualitas program studi maupun mutu dan kualitas sumber daya insani.

S1 Sastra China

Jurusan Sastra China merupakan program studi termuda di Fakultas Sastra U.K.Maranatha. Jurusan berdiri  pada bulan Agustus tahun 2005 melalui SK nomor 3161/D/T2005. Kegiatan akademik dimulai pada semester ganjil 2006/2007. U.K.Maranatha menjadi perguruan tinggi pertama di Jawa Barat yang membuka Jurusan S1 Sastra China.

Sasaran dari kegiatan belajar dan mengajar di jurusan adalah menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan  keilmuan yang jelas di bidang linguistik, sastra, dan budaya Indonesia dan China; menguasai teori-teori dasar dalam bidang linguistik, sastra, dan budaya; mampu melakukan penelitian perbandingan antara Indonesia dan China dalam bidang kajian linguistik, sastra, dan budaya. Untuk mencapai sasaran tersebut, jurusan selalu mendorong mahasiswa/i untuk mengikuti ujian New HSK dengan ketentuan: mahasiswa/i tahun pertama mengikuti ujian level dasar, mahasiswa/i tahun kedua mengikuti ujian level menengah, mahasiswa/i tahun ketiga mengikuti ujian level mahir.

Jurusan juga giat mendorong mahasiswa untuk belajar dan berlatih kemampuan berorganisasi melalui kegiatan kemahasiswaan seperti HIMA. Selain kegiatan kemahasiswaan, jurusan juga aktif membimbing dan mengarahkan mahasiswa untuk berkreasi melalui berbagai produk penelitian, sehingga mahasiswa/i dapat terinspirasi dan termotivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang S2.

Pembinaan soft skills oleh jurusan dilakukan di kelas seperti kerja kelompok yang mengasah teamwork para mahasiswa; presentasi dan diskusi interaktif antar kelompok mahasiswa di dalam kelas. Selain pembinaan soft skills dalam kelas, pembinaan soft skills juga terdapat dalam berbagai kegiatan SEMA FS dan HIMA S1, di sini yang dibina adalah kemampuan untuk berorganisasi dan keterlibatan dalam berbagai unit-unit kegiatan yang ada di dalam kampus.

Pada intinya, jurusan mengharapkan proses belajar mengajar di jurusan lebih mengarah kepada penguasaan teori-teori dasar linguistik/budaya/sastra yang kemudian dapat dijadikan landasan oleh mahasiswa/i untuk dapat mengikuti kuliah dengan lebih inisiatif sehingga lebih aktif untuk berpendapat dalam diskusi interaktif antar personal atau kelompok atau dalam presentasi. Selain ini, mahasiswa juga dapat mengerti arti kata teamwork dan menerapkannya dalam berbagai kegiatan baik itu kegiatan HIMA maupun nanti ketika sudah memasuki dunia kerja. Mahasiswa yang aktif dalam proses belajar dan mengajar dapat lebih terinspirasi dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.